Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Implementasi DPPM di Kota Semarang

Semarang, 19 Desember 2018, Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Implementasi DPPM dilanjutkan di Kota Semarang. Dihadiri oleh; Perwakilan Sub Award (SA); UDINUS, IDI, dan SEMAR, perwakilan dari; BPJS Kesehatan, KOMLI, Subdit TB, Dinas Kesehatan Semarang, Dinas Kesehatan Provinsi, Global Fund, dan FHI360.

Menurut Dinas Kesehatan Kota Semarang temuan kasus TBC di Kota Semarang sudah mencapai 95,1% dari target, terdata sebanyak 2.428 DPM di TW 1-2 2018. Pada tahun 2017, Kota Semarang menduduki peringkat 4 Case Notification Rate tertinggi se-Provinsi Jawa Tengah. Capaian kasus berdasarkan target dengan capaian tertinggi yaitu: Puskesmas Tlogosari Wetan, dan terendah: PKM Karangmalang. Treatment Success Rate 2014-2017 belum pernah mencapai target 90%. 27% hasil pelacakan tidak ditemukan, baik pasien maupun alamatnya. 215 Gasurkes tersebar di seluruh Kota Semarang, menjaring pasien TB, bekerja sama dengan Kader TB dan Puskesmas.

Implementasi DPPM di Puskesmas dilakukan oleh CTB melalui SA UDINUS, sedangkan implementasi DPPM di Rumah Sakit dilakukan oleh SA IDI, dan implementasi DPPM di Masyarakat dilakukan oleh SA SEMAR.

DPPM sendiri telah dilaksanakan di 24 Puskesmas (8 oleh CTB, dan 16 oleh SA UDINUS) dan 19 Rumah Sakit serta 1 Balkesmas (SA IDI). Penerapan PPM di Semarang selama ini banyak menemui tantangan sehingga belum dapat dilaksanakan dengan optimal. Berdasarkan SK Kepala DKK Semarang No: 443.24/19894 tentang Pembentukan KOPI TB di Kota Semarang menghasilkan pelibatan 18 Organisasi Profesi. Intensifikasi dan ekstensifikasi penemuan kasus TB dilakukan juga di daerah kumuh Kota Semarang (kec. Semarang Utara dan kec. Semarang Timur) oleh Kader Permata Hati.

Diskusi pada kegiatan ini juga membahas mengenai Pemerintah Pusat yang tidak memiliki aturan untuk pendistribusian OAT progam kepada apotek, dll. Sehingga bila Dokter Praktek Mandiri (DPM)/Klinik ingin mengobati pasien TB, silakan untuk dapat berkoordinasi dan meminta OAT kepada Puskesmas/Rumah Sakit yang mendapat alokasi OAT program dari Pemerintah.

Paparan dari kegiatan ini membahas mengenai Kader TB di Semarang yang sudah melaksanakan kegiatan investigasi kontak selama bulan Agustus-September, dengan target 1 bulan dapat menginvestigasi 30 rumah. Dilihat dari segi pelatihan yang sudah dilaksanakan oleh Sub Award SEMAR pun dirasa sangat membantu, namun kurang luas cakupannya, dan jumlah kader yang dilatih masih sedikit. Penilaian mandiri cukup membantu karena sejalan dengan keperluan akreditasi. Pertemuan jejaring internal bisa disisipkan dalam pertemuan mutu, minlok, dll, tidak harus berdiri sendiri (di Puskesmas), rapat dalam tim pokja masing-masing kemudian rapat bersama (di RS).

Yang perlu diingat adalah bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan notifikasi kasus TB di Kota Semarang. Capaian pasien TB tahu status HIV masih dirasa kurang atau belum mencapai target 90% di RS karena pemahaman yang kurang. Sehingga perlu adanya pengembangan layanan tes HIV di RS, karena baru 5/7 (71%) RS Pemerintah dan 9/19 (47%) RS Swasta yang memiliki layanan tes HIV agar capaian testing HIV pada pasien TB dapat meningkat. Luaran dari kegiatan ini adalah diharapkan dapat meningkatkan 1) penemuan kasus, 2) peningkatan laporan, 3) kualitas pelayanan. (MF/ARS)